Penyebab Dasar Kegagalan Influencer Marketing

by : Sulistyono Basuki


Posted on October 25, 2017 19:10 PM
Bagikan melalui :


Kenali dulu hal-hal yang akan membuat influencer marketing tidak berhasil. Pahami lalu hindari saat menerapkannya.

Kenali dulu hal-hal yang akan membuat influencer marketing tidak berhasil. Pahami lalu hindari saat menerapkannya.

Sebagai cabang baru komunikasi pemasaran saat ini, influencer marketing bertumbuh dengan pesat. Banyak para pelaku pemasaran menerapkannya untuk beragam tujuan marketing pada brand yang dimiliki. Hanya saja, dalam implementasinya banyak pengelola brand yang merasa gagal dengan pencapaian target dan begitu pun strateginya.

Kegagalan tersebut bukan tanpa faktor. Dan faktor-faktor tersebut sebenarnya dapat dicegah dari awal ketika teknik marketing ini hendak dijalankan. Untuk menghindarinya, kenali beberapa hal dasar penyebab kegagalan influencer marketing.

Salah memilih influencer. Pelaku pemasaran kerap tergoda untuk memilih influencer dengan mempertimbangkan jumlah follower-nya. Padahal, tipe influencer ada banyak. Setiap tipe memiliki cara dan pengaruh yang berbeda kepada para follower-nya.  Setiap objektif yang kita tentukan akan mempengaruhi tipe influencer yang harus digunakan.

 

Misalnya, untuk strategi meningkatkan brand awareness dalam masa peluncuran produk baru yang sifatnya fast moving, akan lebih efektif jika kita menggunakan tipe mega influencer atau macro influencer seperti para selebriti atau selebgram. Namun, jika membutuhkan engagement yang lebih tinggi, maka tipe mikro akan lebih sesuai. Untuk memilih influencer, banyak agensi marketing yang menyediakan jasa untuk kebutuhan tersebut.  Yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara agensi tersebut melakukan kurasi atas influencer yang dimilikinya.

 

Menerapkan pola pikir iklan konvensional. Dalam masa transisi dunia marketing, banyak pengelola brand berada di area abu-abu. Secara strategi sudah berusaha masuk ke ranah digital dengan cara marketing yang lebih modern, namun pada eksekusinya masih menggunakan cara-cara periklanan yang konvensional.  Demikian pula pada penerapan strategi influencer marketing-nya. Banyak yang masih menjalankan pola selayaknya mereka memasang iklan advertorial di sebuah media cetak. 

 

Padahal, salah satu kunci keberhasilan influencer marketing adalah cara penyampaian yang sedemikian halusnya. Lebih efektif jika mengikuti gaya komunikasi si influencer itu sendiri. Namun banyak pengelola brand memaksakan pesan-pesan seperti yang dikehendakinya, dengan kecenderungan cara beriklan yang lebih frontal. 

 

Tidak memahami bahwa influencer marketing adalah proses yang perlu konsistensi.  Influencer marketing bukanlah obat instan untuk setiap masalah pemasaran brand.  Meskipun mendapatkan reach dan engagement yang tinggi, bukan berarti masalah pemasaran Anda terselesaikan.  Strategi ini tetap menjadi bagian dari sebuah strategi besar marketing. Seperti halnya strategi komunikasi yang lain, influencer marketing pun adalah sebuah proses. Sehingga dalam melaksanakannya membutuhkan konsistensi. Setidaknya influencer marketing digunakan dalam proses promosi produk dengan masa kampanye sekitar 3 bulan. Menjalankan strategi influencer marketing yang terputus-putus dengan jumlah pesan yang tidak terukur dengan baik akan menyebabkan kegagalan.

 

Salah menentukan obyektif. Para pengelola brand saat ini akan selalu dituntut ROMI (Return On Marketing Investment) dari setiap aktivitas yang dijalankannya. Hal ini mendorong mereka untuk menentukan target jumlah penjualan secara langsung dari aktivitasnya tersebut, dan kemudian menjadikan ini menjadi sasaran setiap aktivitas marketing-nya. Padahal tidak semua aktivitas dapat dikaitkan secara langsung dengan penjualan. Bagaimanapun, marketing adalah sebuah proses dan bagian dari salah satu strategi bisnis.  Banyak hal yang akan mempengaruhi pencapaian penjualan. Influencer marketing digunakan bukan untuk aktivitas yang berdampak secara instan ke penjualan.  Reach dan engagement yang tinggi juga bukan menjadi sasaran akhir influencer marketing, tetapi  brand advocacy dan brand sentiment di audiens yang akan menjadi sasaran sesungguhnya aktivitas ini.

 

Tidak memiliki strategi konten. Mengapa kita menggunakan influencer marketing? Karena kebiasaan orang mudah percaya cerita dari orang lain. Terlebih cerita dari yang menjadi panutannya.  Sehingga bagaimana pun juga sebenarnya cerita yang berisi pesan menjadi faktor penting dalam strategi ini. Meskipun dalam melakukan penyajian menggunakan gaya dari si influencer namun tetap harus disusun dalam sebuah strategi agar pesan dapat tersampaikan dalam konten yang. Di sinilah banyak kegagalan terjadi karena kurangnya strategi konten dari awal. Cerita yang tersusun tidak nampak benang merahnya, sehingga cenderung gagal menyampaikan pesan yang diharapkan. Hal ini justru dapat menurunkan reputasi brand.