Mencari saluran marketing yang pas? Mari coba influencer marketing!

by : Junior Respati Eka Putro


Posted on October 24, 2017 22:30 PM
Bagikan melalui :


Hari ini, seorang marketer memiliki tantangan yang sangat beragam. Kebanyakan lebih pada seefektif apa mereka menginvestasikan dana marketingnya untuk mencapai angka penjualan yang diharapkan.

Hari ini, seorang marketer memiliki tantangan yang sangat beragam. Kebanyakan lebih pada seefektif apa mereka menginvestasikan dana marketingnya untuk mencapai angka penjualan yang diharapkan. Era digital memungkinkan marketer melakukan pengukuran. Yang menjadi dasar, sebesar apa keberhasilan mereka melakukan kegiatan marketing.

Di antara sekian banyak saluran yang bisa dipilih untuk melakukan kegiatan marketing, belakangan kencang berembus istilah influencer marketing. Istilah baru, namun sudah lama dipraktikan oleh para marketer.

Menggunakan orang yang “berpengaruh” untuk memasarkan produk, sudah dimulai sejak abad ke 16. Tepatnya tahun 1760, saat Josiah Wedgwood, seorang entrepreneur dan pengrajin tembikar asal Staffordshire, Inggris, mengajak beberapa orang terkenal untuk ikut mempromosikan produk tembikarnya.

Seiring berjalannya waktu, praktik ini kembali terlihat di Amerika Serikat, tahun 1800. Tepatnya saat aktris dan produser cantik yang ngetop kala itu, Lillie Langtry, tampil sebagai model untuk label produk minuman Brown’s Iron Bitters. Kertas bergambar dirinya ditempelkan di setiap produk minuman asal New York tersebut, dan menghasilkan peningkatan penjualan yang luar biasa.

Di tahun 1905, komedian Roscoe Arbuckle alias Fatty Arbuckle mencatatkan rekor sebagai orang pertama yang melakukan endorsement melalui iklan video. Saat itu, dia hadir sebagai ambassador untuk produk rokok bernama Murad.

Yap! Sepanjang sejarah, orang-orang popular memang mewarnai hadirnya tren influencer marketing di dunia. Popularitas diyakini membuat fans terpengaruh dan mengikuti perilaku sang idola. Dan itu bertahan hingga bertahun-tahun sesudahnya. Bahkan, sampai hari ini.

INFLUENCER 2.0

Era digital ternyata membawa perubahan pada lansekap influencer. Sosok-sosok yang punya pengaruh bukan hanya datang dari golongan selebriti dan tokoh publik. Keterbukaan arus informasi di jaman digital, membuat banyak sosok baru -yang sebelumnya tidak dikenal-, menjelma menjadi influencer. Pemikiran-pemikiran yang dulunya sulit mengemuka, mendadak jadi mudah mendapat audiens dengan keterbukaan akses informasi.

Diawali dengan mudahnya membuat blog, penulis-penulis yang tadinya sulit mempublikasikan pemikirannya mendapat mendapat akses tanpa hambatan untuk bercerita. Cerita-cerita yang jauh dari format mainstream, ternyata disukai oleh audiens. Alhasil, para blogger dan jagoan berkicau di twitter pun menjelma jadi selebrita baru. Yang muncul entah dari mana, namun memiliki pengikut berjuta jumlahnya.

Semakin banyaknya influencer di era digital, membuat brand menjadi punya banyak pilihan untuk menyuarakan produknya. Barisan influencer ini yang dikenal dengan istilah buzzer. Yang “menyuarakan” kemauan brand kepada audiens yang mereka miliki.

Sempat efektif, ternyata fenomena buzzer belakangan melemah. Konsumen semakin cerdas, dan tidak lagi mudah percaya dengan obrolan sang idola di tweet maupun blognya. Mereka lebih suka melakukan riset sendiri. Browsing sana-sini, sambil bertanya pada orang-orang yang dinilai relevan dan dapat dipercaya seputar produk yang ingin dibelinya.

INFLUENCER 3.0

Era kematian selebsosmed pun perlahan mendekat. Apakah ini berarti padam juga api influencer marketing yang sudah ada sejak abad ke 16?

Ternyata tidak. Influencer marketing masih menjadi senjata. Bahkan, hingga kini, influencer marketing diyakini menjadi salah satu teknik marketing paling ampuh selain sosial media marketing dan konten marketing.

Hanya saja, memang bentuknya perlahan bergeser. Jika sebelumnya influencer marketing terpusat pada influencer dengan jumlah audiens yang lumayan banyak, kini semua orang bisa menjadi influencer.

Memang sih, tetap saja ada minimal jumlah audiens yang di-influence untuk menyandang status influencer. Namun, tidak lagi berjuta atau bahkan beratus ribu. Puluhan ribu pun jadilah!

Syaratnya, influencer hari ini harus lekat dan relevan dengan masalah tertentu. Memiliki otoritas untuk berbicara di publik tentang permasalahan tersebut. Dan bisa dipercaya oleh audiensnya.

Karakter influencer model ini, meski tidak terlalu menghasilkan reach, namun bisa meningkatkan engagement terhadap audiens. Bahkan, output yang muncul dari influencer jenis ini seringkali menghasilkan brand advocate baru. Yang karena ketertarikannya dengan materi yang dibawakan influencer, ikut cuap-cuap, membicarakan produk yang menarik minatnya.

Influencer marketing hari ini, bukan hanya bisa menghasilkan jangkauan. Namun juga menghasilkan earn promotion. Dengan catatan, kita bisa menemukan sosok yang tepat untuk menjadi agen pembicara kita ke khalayak.

Karakter, relevansi dan otoritas. Tiga hal yang amat perlu diperhatikan dalam memilih influencer hari ini. Oh iya, satu hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah story. Sehebat apapun influencer-nya, kalau ceritanya kurang pas, tidak akan ber-impact baik dalam kampanye marketing yang dijalankan.

Mari padukan  influencer dengan storytelling yang pas!