Mari Mainkan Jurus “People Trust People” di Strategi Marketing Anda

by : Eddy Suhardy


Posted on October 24, 2017 19:00 PM
Bagikan melalui :


Orang cenderung lebih percaya pendapat orang lain ketimbang brand. “People trust people” masih menjadi salah satu kata kunci yang mengemuka pada era influencer marketing di platform digital

 

Well, dari zaman teknologi penyebaran pesan masihlah analog, kecenderungannya tetap sama. Pun secara esensial apa sih proses yang berubah ketika seseorang hendak membeli sebuah produk? 

Tidak banyak. Prinsipnya pun sama.

Kita juga tidak perlu teori yang muluk-muluk. Mari kita gunakan logika saja untuk membahas soal terminologi “people trust people” ini, baik saat dulu, maupun sekarang. 

Dulu, ketika hendak membeli produk tertentu orang akan mencari di tempat mana produk itu dijual.  Lalu, setelah produk itu ditemukan, maka orang akan mencari informasi tentang brand apa saja yang ada di pasaran, apa kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu si calon pembeli mulai membanding-bandingkan, dan tanpa sadar sedang melakukan riset atas brand yang tersedia.

Untuk meneguhkan keyakinan, mereka akan bertanya kepada pihak atau orang-orang yang memiliki pengetahuan atas produk dan brand yang ada. Lalu, akhirnya haqul yakin saat menjatuhkan pilihan atas sebuah brand dan kemudian membelinya.

Sekarang, pada era digital, proses search dan research (termasuk mendapatkan opini peneguhan hati untuk pemilihan brand) menjadi kian gampang.  Tinggal browsing via internet.  Cari informasi, riset perbandingan brand, lihat pula apa opini orang atas produk atau brand yang bersangkutan. Beres.

Khusus di urusan opini, mereka bisa melihat atau meminta pendapat dari teman-teman. Entah di media sosial (dalam bentuk testimoni, komentar, atau tanya jawab via japri) atau weblog.  Pun biasanya, bila produk dengan brand tertentu sudah dibeli, orang-orang di ranah maya biasanya dengan senang hati akan membagi (share) pengalaman atau review atas produk itu. 

Di Indonesia, proses perilaku konsumen tersebut pernah disurvei oleh tim riset Gramedia Majalah, Kompas Gramedia. Jumlah respondennya 9.000 orang, terserak di empat kota. Surveinya menyangkut proses search, research, dan share.

Usai diolah, riset itu lalu disajikan dalam laporan Indonesia Hottest Insight (IHI) pada lima tahun lalu.  Dalam survei yang menyasar segmen pria, wanita serta anak-anak (usia 6-12 tahun) terungkap bahwa proses riset dan share ternyata juga jamak dilakukan pada zaman serbadigital ini.

Sekitar setengah dari jumlah responden menyatakan bahwa teman atau sumber-sumber yang dianggap kompeten merupakan salah satu faktor penting pada saat pengambilan keputusan pembelian barang atau layanan. Di segmen anak misalnya, hampir 40% dari 3.000 responden meminta pendapat teman dan saran rekomendasi tempat makan yang sebaiknya dikunjungi. Dari jumlah responden yang sama 57% men-share pengalaman kepada teman lain atas resto yang dikunjungi.

Contoh lain, di segmen wanita (13-50 tahun). Dari 1.360 responden yang terbiasa membagi informasi produk pakaian dan aksesoris lebih dari 57% menyatakan sengaja merekomendasikan produk yang pernah dibelinya untuk diketahui teman-temannya. Sedangkan 46% sisanya malah mengharapkan adanya diskusi tentang produk yang dipilihnya.

Survei lima tahun lalu itu barangkali bisa menunjukkan beberapa hal terkait perilaku konsumen Indonesia pada waktu itu. Pertama, bahwa rekomendasi orang-orang yang bisa dipercaya (trusted people) adalah hal penting. Titik ini bahkan menjadi kian mudah karena keleluasaan di ranah internet. Yang kedua, kebiasaan untuk men-share atau memberi rekomendasi juga sudah menjadi hal jamak dan alami di dunia internet. 

Dengan perilaku konsumen seperti itu maka tak heran jika dalam 10 tahun belakangan banyak muncul tokoh-tokoh pemberi rekomendasi. Hari ini kita menyebut para pemberi rekomendasi sebagai influencer. Mereka bisa saja mewujud dalam diri seorang blogger, vlogger, fesbuker atau selebgram.

Banyak brand kemudian memanfaatkan influencer dalam kegiatan penyampaian pesan pemasaran.  Para influencer dianggap efektif sebagai “medium” penyampaian pesan karena adanya faktor “trust” khalayak kepada dirinya. Di sisi konsumen,  jika dahulu kita menaruh kepercayaan kepada si pemberi rekomendasi karena kenal secara fisik, kini kepercayaan bisa tumbuh karena konten si influencer di berbagai media yang mereka punya.

Debat seru soal penggunaan influencer dalam kegiatan marketing kini terbagi dua. Banyak brand yang cenderung memilih jenis influencer karena kompetensi dan otoritas di bidangnya memang kuat – tercermin dari konten dan tingkat engangement -- tapi di sisi lain banyak juga brand yang terpukau karena jumlah “jamaah” si influencer yang hebat.

Lalu, jenis influencer manakah yang akan Anda pilih? 

Kalau mengacu kepada prinsip “people trust people” dalam proses search-research-share, mustinya jenis influencer pertamalah yang digunakan.  Meski jumlah pengikutnya tidaklah bejibun, namun pesan pemasaran lewat konten yang disampaikan biasanya lebih efektif, fokus alias segmented.

Sementara untuk influencer jenis kedua, misalnya selebritis tradisional, Anda biasanya hanya memperoleh jumlah terpaan pesan yang lebih luas. Sementara, konversi khalayak yang berhasil diyakinkan tergolong sedikit. Sudah itu, eh, ongkosnya biasanya mahal juga.