Dua Kunci Influencer Marketing: Influencer dan Kualitas Kontennya

by : Eddy Suhardy


Posted on October 25, 2017 19:10 PM
Bagikan melalui :


Influencer yang dikenal atau dipercaya bisa jadi pegangan buat Anda yang melakukan strategi influencer marketing. Selain itu, perhatikan cara ia menebar kontennya.

Influencer yang dikenal atau dipercaya bisa jadi pegangan buat Anda yang melakukan strategi influencer marketing. Selain itu, perhatikan cara ia menebar kontennya.

Influencer marketing secara garis besar didasarkan pada testimonial atau bukti sosial dari pengguna asli dan pelanggan nyata.  Merek memang bisa memberi tahu orang seberapa hebat produk mereka seperti yang mereka inginkan. Masalahnya, khalayak lebih suka mendengarkan pendapat orang-orang dekat . Dalam riset Nielsen disebutkan: "Sekitar 83% konsumen mempercayai rekomendasi dari rekan mereka ketimbang iklan".

Konsumen juga mempercayai orang-orang yang meski belum ia kenal, namun dari konten yang disyiarkan nampak jujur, objektif dan asli. Contoh sederhana ini bisa terlihat saat Anda hendak melakukan booking online tempat penginapan.

Bukankah saat hendak memutuskan pemesanan atas sebuah hotel Anda akan melihat terlebih dahulu review dari tamu-tamu terdahulu? Para pemberi review atau testimoni  itu bukanlah orang yang Anda kenal, dan kebanyakan malah bukan orang terkenal.  Tetapi dari “riset” kecil sebelum melakukan pesanan, Anda akan beroleh keyakinan bahwa produk yang ditawarkan memang setimpal dengan uang yang akan dikeluarkan.

Para pemberi testimoni adalah konsumen. Mereka diam-diam sudah menjadi pihak yang memberi pengaruh. Testimoni atau komentar mereka dapat Anda manfaatkan dalam aksi menyebarkan pesan brand ke berbagai khalayak. Mereka menyampaikan pesan dengan cara dan gaya bahasa yang sesuai.

Ada beberapa jenis para influencer. Salah satunya yang juga hebat dalam memberi pengaruh adalah jenis orang-orang yang otoritatif.

Dulu, orang-orang semacam ini kita lihat di grup-grup diskusi komunitas. Mereka bukan hanya pernah menjajal berbagai produk, tetapi mampu memberikan  penilaian atas keunggulan, kelemahan dan kegunaan. 

Selain pengalaman, pengetahuannya tentang seluk beluk di bidang yang ditekuni sangatlah andal. Dalam forum diskusi, ketika banyak suara terdengar, kata-kata darinya senantiasa bisa dijadikan pegangan berkat argumentasinya yang logis. Bahkan seringkali sainstifik.

Lalu bagaimana memilih influencer yang tepat? Apakah kita memilih influencer tipe “seleb” dengan jamaah yang berlimpah ruah?

Lagi-lagi kita harus kembali kepada dua hal: orang yang bisa dipercaya dan konten yang “ori” serta objektif.

Seorang influencer dengan bidang yang fokus – namun jumlah pengikutnya tidak sebanyak para “seleb” – ternyata lebih efektif. Hal ini juga dinyatakan oleh Technocrati.  “Tak kurang dari 54% konsumen meyakini semakin kecil komunitasnya, semakin besar pengaruh sang influencer." Kenapa lebih besar? Salah satunya karena kualitas engagement-nya yang juga tinggi.

Lalu berkenaan dengan konten, ada juga sebuah riset di Amerika yang menarik. Riset dari Bloglovin menyatakan:  "Sekitar 61% wanita  mengaku tidak akan engage dengan konten sponsor yang disebarkan oleh  influencer jika konten itu dirasakan tidak asli”. Nah, kan!